UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN PEMAHAMAN KONSEP IPA (FISIKA) MELALUI PENDEKATAN GUIDED DISCOVERY INQUIRY LABORATORY LESSON

Penulis : Endin Kamiludin

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 

 Tahun : 2008

ABSTRAK 

       Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui peningkatan keterampilan proses IPA (fisika) siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Ciamis dengan menggunakan pendekatan guided discovery inquiry laboratory lesson, 2) mengetahui peningkatan pemahaman konsep IPA (fisika) siswa kelas VIII-G SMP Negeri 4 Ciamis dengan menggunakan pendekatan guided discovery inquiry laboratory lesson. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-G SMP Negeri 4 Ciamis tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah 40 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi, evaluasi. Data yang terkumpul digunakan sebagai bahan refleksi, hasil refleksi merupakan acuan untuk merencanakan siklus berikutnya. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu berupa pemaparan frekuensi dan persentase kemampuan siswa dalam melaksanakan keterampilan proses yang dikembangkan dan pemahamannya dilihat dari prestasi belajar mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa hal, yaitu: 1) Pembelajaran fisika melalui pendekatan guided discovery inquiry laboratory lesson mampu meningkatkan keterampilan proses siswa, hal ini ditunjukan dengan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu mencapai rerata kategori baik dari 34,4 menjadi 65,8. dan 2) Melalui pendekatan ini juga dapat meningkatkan pemahaman konsep belajar IPA (fisika). Hal ini terlihat pada nilai rata-rata pre test dan post test pada siklus I meningkat dari 5,5 menjadi 8,1 dan pada siklus II meningkat dari 7,5 menjai 8,3. Kalimat-kalimat kunci : Guided discovery inquiry laboratory lesson,keterampilan proses dan pemahaman konsep.

PENDAHULUAN 

       Ilmu pengetahuan dasar MIPA adalah salah satu landasan pengembangan teknologi untuk meningkatkan daya saing suatu bangsa. Pernyataan tersebut berkaitan dengan adanya asumsi bahwa salah satu indikator majunya suatu bangsa adalah tingkat penguasaan teknologi di segala bidang oleh bangsa tersebut. Sementara itu, dasar teknologi adalah ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian, sains pada umumnya dan khususnya fisika berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. 

     Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa pembelajaran ditandai oleh terjadinya hubungan substantif antara aspek-aspek konsep, informasi baru dengan komponen-komponen yang relevan dalam struktur kognitif siswa. Artinya bahwa dalam pembelajaran siswa dapat menciptakan makna-makna melalui penginteraksian atau pengaitan diri dengan pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitifnya serta menemukan dan mengkomunikasikannya dengan persoalan atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Titik sentral setiap peristiwa pembelajaran terletak pada suksesnya siswa mengorganisasikan pengalamannya, mengembangkan kemampuan berfikir bukan pada kebenaran siswa dalam replikasi apa yang dikerjakan oleh guru. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mata pelajaran IPA (fisika) dianggap sebagai “momok” yang menakutkan oleh sebagian besar siswa di pendidikan tingkat dasar maupun menengah, sehingga banyak dijumpai siswa yang kurang atau bahkan tidak senang terhadap pelajaran IPA (fisika). Hal ini dapat kita lihat dari hasil prestasi belajar fisika yang masih menunjukkan nilai cukup bahkan rendah apabila dibandingkan dengan hasil prestasi belajar mata pelajaran lain. 

     Kenyataan tersebut memberikan gambaran mengenai tingkat penguasaan materi ajar IPA (fisika) oleh siswa pendidikan dasar dan menengah belum memenuhi harapan. Rendahnya tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah metode dan pendekatan pembelajaran. Bebeberapa metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain metode ceramah, demonstrasi, metode tugas, metode eksperimen dan metode diskusi. Pada masa kini, harus diakui bahwa proses belajar mengajar matematika dan sains di tingkat dasar ataupun menengah, khususnya pelajaran fisika, masih sering menekankan pada penggunaan metode ceramah sehingga proses pembelajaran kurang terfokus pada siswa, melainkan terfokus pada guru. Padahal menjadi guru yang kreatif, profesional dan menyenangkan dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan pendekatan dan memilih metode pembelajaran yang efektif.

 

      Hal ini penting untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menekankan pada kreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan pengarahan ke arah kedewasaan peserta didik.4 . SMP Negeri 4 Ciamis merupakan salah satu sekolah menengah negeri dengan kemampuan rata-rata, bukan SMP unggulan dan juga bukan SMP yang tertinggal sebab letaknya berada di pusat kota Kabupaten Ciamis-Jawa Barat. Berdasarkan hasil observasi awal, SMP Negeri 4 Ciamis mempunyai 2 ruang laboratorium (lab. IPA dan lab. Komputer), padahal ada 22 kelas yang membutuhkan ruangan tersebut, sehingga untuk mengembangkan keterampilan siswa masih terhambat oleh keterbatasan fasilitas terutama ruangan meskipun untuk peralatan praktikum sudah cukup lengkap. Berdasarkan informasi yang diperoleh dapat diungkapkan bahwa nilai fisika siswa mempunyai kecenderungan lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Dalam hubungan ini siswa menganggap bahwa pelajaran fisika sebagai mata pelajaran yang cukup susah. 

       Sulitnya mata pelajaran fisika disebabkan bahwa buku paket fisika tidak mudah untuk difahami apabila tanpa bantuan guru. Disamping itu dalam pelaksanaan pembelajaran IPA (fisika) metode yang digunakan masih belum bervariasi dan belum banyak mengikutsertakan siswa belajar secara aktif. Guru masih banyak menggunakan metode konvensional (ceramah) sehingga siswa cenderungpasif. Metode eksperimen jarang sekali dilaksanakan, alasan yang diungkapkan oleh guru antara lain berkaitan dengan keterbatasa waktu. Hal ini berdampak pada kurangnya motivasi siswa dalam belajar serta hasil prestasi belajar yang mereka capai. Selain kurang bervariasinya metode pembelajaran yang digunakan, aktivitas siswa dalam pembelajaran juga masih cenderung mencatat dan mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru, serta suasana di dalam kelas masih gaduh/ramai. Sementara dalam pelaksanaan kurikulum pada saat ini guru dituntut mampu merangsang siswa untuk belajara aktif yang bisa menumbuhkan rasa kepuasan akan proses pembelajaran. 

    Menurut pandangan konstruktivisme dari Piaget secara ekstrem bahwa pengetahuan yang diperoleh siswa dibangun dalam pemikiran siswa sendiri dan tidak dapat dipindahkan dari pikiran guru ke pemikiran siswa secara utuh.5 Senada dikemukakan oleh Von Glasers Feld, konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan merupakan bentuk (konstruksi) sendiri. Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan dari kegiatan seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan.6 Berkenaan dengan hal tersebut, maka untuk meningkatkan proses belajar mengajar IPA (fisika) telah dirintis pelaksanaan proses belajar mengajar yang lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan taraf kemampuannya yaitu proses belajar mengajar dengan menggunakan strategi discovery inquiry. Menurut Carin yang dikutip dari Moh. Amin, metode discovery inquiry adalah dua metode yang digabungkan menjadi satu.7 Discovery adalah proses mental yang terjadi pada anak-anak atau individu dalam mengasimilasi konsep atau prinsip. Dengan kata lain kegiatan discovery adalah kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Proses-proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur dan sebagainya. 

     Discovery lebih menekankan pengalaman langsung.8 Sedangkan inquiry adalah perluasan proses discovery. Prosesproses mental inquiry diantaranya adalah merumuskan problem, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap objektif, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya. Jadi ciri-ciri discovery inquiry adalah guru yang merumuskan masalah, tetapi peserta didik yang diberi peluang untuk mengadakan penyelidikan dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pemecahan masalah. Pembelajaran IPA (fisika) dengan menggunakan strategi discovery inquiry yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan guided discovery inquiry laboratory lesson yaitu penemuan terpimpin (guided discovery) yang dilaksanakan di laboratorium dengan menggunakan LKS dan alat/bahan yang disusun sesuai kebutuhan dan tujuan. Pada kegiatan ini guru menyediakan bimbingan atau petunjuk kepada siswa dengan LKS. Pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan GDILL merupakan pembelajaran yang berangkat dari pengamatan dan biasanya mencakup berbagai strategi pembelajaran, sehingga lebih memungkinkan siswa mengembangkan kemampuannya untuk memahami konsep dan prinsip IPA (fisika). Siswa tidak menerima konsep dan prinsip dari guru, tetapi siswa menemukan sendiri prinsip itu melalui percobaan atau pengamatan yang dilakukan. Siswa akan mampu memahami konsep dan prinsip IPA (fisika) dengan mudah apabila ia mengalami sendiri, menghayati sendiri, mengukur dan menghitung sendiri gejala yang mereka pelajari. Guru hanya membimbing dan mengarahkan siswa dalam merumuskan masalah, membuat hipotesis, merencanakan eksperimen dan menarik kesimpulan atau menyusun konsep. 

     Menurut Ahmad Abu Hamid menyatakan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan dalam pembelajaran IPA (fisika) yang dapat membiasakan (membudayakan) murid untuk melakukan proses ilmiah, memperoleh produk ilmiah atas dasar sikap ilmiah, mengkomunikasikan hasil kepada pihak lain dan menerapkan hasil atau perolehannya dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan adalah kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai hasil tertentu termasuk kemandirian, kreativitas dan produktivitas. Keterampilan mengandung dua unsur kemampuan, yaitu : (1) kemampuan olah pikir dan olah nalar (psikis) (2) kemampuan olah perbuatan (fisik).9 Keterampilan yang dimaksud adalah mengikuti langkah-langkah pembelajaran guided discovery inquiry laboratory lesson yaitu melakukan percobaan awal, melakukan pengamatan, merumuskan masalah, membuat dugaan sementara, melakukan percobaan pengujian, menyusun konsep, mencatat pelajaran dan menerapkan konsep. Keterampilan ini dapat dibentuk oleh guru dengan meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap alat peraga IPA dan keinginan siswa untuk mencoba melakukan percobaan. Munculnya rasa ingin tahu dan ingin mencoba akan mendorong siswa untuk aktif melakukan percobaan (pengamatan), sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip secara langsung. 

        Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman konsep IPA (fisika) pada siswa. Atas dasar pemikiran tersebut di atas, maka dalam pokok bahasan gaya ini peneliti ingin menggunakan pendekatan Guided Discovery Inquiry Laboratory Lesson sebagai upaya peningkatan keterampilan proses dan pemahaman konsep IPA (fisika) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Ciamis


 

Post a Comment

advertise
advertise