-->
Post a Comment
SEPERTI HARI KEMARIN (CALISHA) oleh Om Dompet

       Seperti hari kemarin, aku bergegas tegas mengejar samar-samar di depan sana. Berhari-hari aku merunduk sunyi  mengikuti bahasa yang kusebut hati. Lalu jika kulihat pikiran ini, aku tak tahu menahu bagaimana arahnya angin sore tadi. Jika aku mendengar apa yang kuperhatikan di dekat hati, sekejap semua bertolak berlalu. Seperti angin sore tadi, segera sirna dari kebisingan senja. Aku kecewa tak menemukan apapun di ujung sana, tak mendapati apapun yang pernah menjadi harapan.

       Namun bukan aku jika berhenti di sini, meski angin sore tadi tak meninggalkan apapun di pikiranku, sebenarnya ia hanya bersembunyi di balik cakrawala hari. Dan seperti hari kemarin, aku selalu setia menunggu ia di sini. Tempat yang selalu menjadi nuansa, telah terjadi pencarian jati diri. Saksi-saksi hampa yang mulai bosan dengan ketangguhan sang pencari, lalu berhambur pasrah dibuyarkan waktu. Entah berapa kali lagi aku mengumpulkan jemari-jemari bumi untuk kupinjam. Sejak aku berubah mengerti, bagaimana hidup tak boleh bertandang ke tepi. Kini lagi, seperti hari kemarin, sang jingga mulai melambaikan senyum, tanda hati ini untuk kumulai merelakan hari.

      Tapi sebentar dulu.! Sepertinya aku sedang tak ingin seperti hari kemarin. Biarlah mentari menuju tulisan-tulisan takdir di ujung barat. Karena kini sepertinya aku bergetar menyaksikan lamunan sejenak tadi. Aku berharap ini tak seperti hari kemarin, dan selalu berharap seperti ini.
“Hai tunggu…!!”  siapakah anggun yang tersipu berlalu tadi ? Sekedip mataku menyaksikan kepastian dalam sosoknya. Namun kurasa tak jauh beda dengan hari kemarin, kurelakan sang gulita menyelimuti penasaran. Mungkin hanya seperti hari kemarin, namun kali ini ada sesuatu yang kubilang penantian. Kusaksikan ia melaju indah menurutku, ke lorong sempit di mana aku setiap hari tak memperhatikan itu. Siapakah ia ?
***

      Sejenak aku memikirkan hari ini. Aku melihat sosok indah yang kurasa menjadi sebuah impian saat nanti. Namun wajahnya tak nampak jelas karena temaram senja. Jika aku yakin akan arahnya angin sore tadi, pasti ia tak jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan saat ini. Benar saja, sosoknya tak bisa lepas dari ingatanku. Bahkan menjadi calon terbesar yang menghuni mimpi-mimpi malam ini. Apa yang kudapat hari ini tak seperti hari kemarin. Aku seperti menemukan sesuatu yang mungkin akan memperpanjang kisah ini. Kisah yang selalu menjadi hidangan teriknya hari lalu harus siap dihempaskannya dalam kekecewaan.
Bukan aku jika tak seperti hari kemarin. Selalu saja kusaksikan bunga-bunga cinta yang gemar berguguran bahkan tak bisa kunikmati kuncupnya, lalu aku harus  kehilangan harumnya. Berkali-kali aku bermadu asmara, selalu saja tak kualami lamanya senja bercinta. Memang selalu seperti hari kemarin, senja selalu tak mungkin lama berdiam menghuni tepi-tepi hari. Yang akhirnya harus rela menanti, datangnya esok yang selalu seperti ini.

       Aku lelah, bukankah aku manusia yang biasa. Memiliki hati yang rapuh, hati yang tangguh namun pasti ada runtuh, hati yang tegas namun pasti ada kandas, hati yang tegar namun pasti ada buyar. Inilah kisahku yang hanya seperti hari kamarin, memiliki cinta tak sejiwa karang, menjalin asmara hanya sekejap senja. Ah, sudahlah..!! pasti akan kudapat hari setelah nanti. Tak terasa larut membawaku dalam lelap
Dan inilah yang aku tunggu sejak hari kemarin. Ia kembali hadir di depanku, namun serasa membuatku menjadi seseorang yang berbeda hari ini. Dia bersanding bunga-bunga yang membuatnya semakin mempesona. Kerudung biru menghias manis membingkai wajahnya yang semakin anggun. Niat hati ingin mengenalnya lebih dekat. Sang penjual bunga di pinggir kota.
“Selamat siang.” Dengan gugup aku mencoba menyapa ia. Dia balas senyum yang sangat membuatku mampu melupakan apapun. Aku merasa inilah dia yang mungkin menjadi tujuan senja-senjaku di hari kemarin. Serasa aku tak ingin beranjak dari pijakanku. Aku terus memandangnya dan membuat ia mengalihkan sipu pertanda malu.
“Mau beli bunga mas?.”  Seorang ibu setengah baya tiba-tiba muncul dari badan gadis itu dan menawarkan bunga. Aku rasa ia adalah sang ibunda gadis cantik ini.
“Em.. ee.. iya bu, bunga yang bagus apa ya?.” Aku semakin gugup.
“Anda akan memberikan bunga pada siapa..?.” Tanya ibu itu
“Ow.. ya, ya cuma sebagai pajangan saja di rumah..” Alasanku
“Silahkan pilih, bunga di sini bagus-bagus semua”
“Oya, aku beli bunga yang ini saja.” Aku mengambil setangkai mawar yang  kebetulan ada di dekatku.

       Aku melihat gadis itu sepertinya tahu kegugupanku, karena ia tersenyum riang melihat tingkah lakuku. Lalu setelah ibu itu berlalu ke belakang, bergegas aku menghampiri gadis itu dan dengan nekat kuberikan setangkai mawar yang kubeli tadi. Lalu aku segera  pergi karena takut ketahuan. Gadis itu menerima bungaku dengan mata kosong, mata yang menimbulkan tanda tanya. Aku tak bisa membaca hatinya karena sejak tadi hanya berdiam diri. Namun matanya tak bisa luput dari pikiranku. Ia menyiratkan sesuatu yang mampu membuatku tergetar. Ada apakah dengan mata itu.? Lalu bagaimana ini? apakah aku harus mengulang hari kemarin, jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun kandas di pertemuan kedua. Lalu apakah aku juga harus membiarkankanya? tidak !! maaf untuk hari ini. Aku tak akan mengulang hari kemarin meski senja yang sebentar lagi menjemput hari.
***

      Hari ini aku kembali melewati seperti kemarin, namun kali ini aku lebih berharap untuk bersua dengan bunga-bunga hariku. Beberapa langkah aku berada tak jauh dari tempatnya. Tapi terhalang sang ibu karena sepertinya beliau membutuhkan bantuan.
“Hati-hati bu..!” aku segera menghampirinya karena ibu itu terjatuh dan barang-barang yang dibawanya juga berhambur.
“Terima kasih dik, jadi merepotkan saja” ibu ini bisa saja aku kan sudah tua
“Tidak apa-apa bu..” Akhirnya punya alasan untuk lebih mengenal.
“Iya, taruh saja di situ…”
“Oya bu, perkenalkan nama saya Hari” aku mengulurkan tanganku
“Panggil saja ibu Bu Siti, dan yang itu anakku Calisha” Bu Siti memperkenalkan anaknya yang ternyata bernama Calisha. Nama yang indah. Namun lagi-lagi aku hanya disuguhkan dengan senyumnya yang semakin hari semakin membuatku terasuk asmara.
“Nak Hari kerja atau kuliah ?” Tanya bu Siti
“Kuliah jurusan sastra bu”
“Ow, tinggal di mana..?”
“Dekat kok bu, di kontrakan Haji Enung”
“Keluarga ?”
“Keluarga saya di Surabaya bu, saya di sini sama kakak saya, buka usaha toko baju. Pulang kuliah saya langsung ke toko buat bantu-bantu, maklum kakakku juga belum berkeluarga”
“Kamu rajin juga..” Bu Siti memandangku penuh makna.
“Oya bu, saya permisi dulu mau ke toko.. terima kasih sudah diperkenankan  ngobrol” Aku hendak pergi karena ada cucian menumpuk di rumah.
“Oya, silahkan jangan segan-segan mampir ke sini lagi” Kata-kata Bu Siti sepertinya mengandung kerinduan dan berharap aku akan berkunjung lagi ke tempatnya. Aku berniat pamitan sama Calisha namun mengapa dari tadi ia tak nampak ? Sudahlah pasti sedang repot di dalam rumah.
***

       Kini aku benar-benar berada di senja yang sangat jelas memperlihatkan jingganya. Aku berharap ini akan berlangsung lama. Seperti harapanku pada seorang Calisha, gadis penjual bunga yang sudah mematri hatiku pada gelora asmara. Oh Calisha, kapan aku bisa bersanding denganmu ??. Tiga hari aku mengenalmu, tiga rasa pula yang kini singgah di celah-celah hatiku. Aku merasa kaulah impianku, aku merasa kaulah cintaku dan aku merasa kaulah masa depanku. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku benar-benar tak ingin melepaskanmu Calisha. Aku berjanji pada hari, jika akan melewati senja dengan senyum dan tak seperti hari kemarin. Mulai saat ini.
***

      Dan alangkah beraninya diri ini saat aku nyatakan perasaanku pada Calisha. Secepat inikah aku ingin segera menghapus senja-senja muramku dan kuganti dengan senyuman syahdumu Calisha.
“Apakah kau mau menjadi kekasihku..??” Calisha hanya tersipu mendengarnya. Namun senyuman itu hanya sebentar. Entahlah, mengapa ia langsung mengarahkan pandangan pada kosong ketika sejenak tadi menatap dengan manis. Apa yang kausembunyikan Calisha ?? Tolong katakan padaku ?? Ia hanya berlalu dengan gontai dan seolah menyuruhkan segera beralih dari sini. Ini lebih sakit dari yang kubayangkan. Apakah ini pertanda ??
***

      Dan inilah jawaban dari semua pertanyaanku kemarin. Calisha menulis surat cinta yang membuat aku tak bisa berkata apapun.
“Wahai lelaki di ujung senja, jika kau telah membaca hati ini dengan makna. Itulah sebenarnya yang aku rasakan semenjak kau hadir di depanku. Aku mengikuti hari kemarin dengan hambar, namun tidak demikian ketika kau mampu menyemarakkan pagi, lalu menjadi mekar-mekar wangi di waktu senja yang terbiasa kaulantunkan.  Aku merasa menjadi lebih hidup, tak seperti hari kemarin ketika aku menantang senja-senja yang begitu singkat, melawan hari-hari yang selalu membawaku dalam penantian.  Kau adalah anugerah terindah jika kau mengerti. Aku mampu merebahkan rindu dan menyematkannya di hatimu sampai senja merenggut hari seperti kemarin. Di baris akhir ini, aku hanya berharap kau mampu menaklukan senja kemarin dan seuatu saat nanti kau akun melihat wajahku dibalik jingga, yakinlah kalau senjamu akan terasa sangat indah.”
September, 25.2011. Surat dari hati, Calisha.
   ***

      Apa yang kudapat pada senja hari ini bukanlah indah Calisha. Kaulah pengikut senja yang dengan tajamnya menusuk hati ini. Kau dengan tega meninggalkan senja-senja kemarin untukku. Kau biarkan aku menagis sendiri, disaksikan senja-senja yang kau bilang indah. Aku berlalu mengikuti arah angin dan berharap senja menampakkan ayu Calsiha. Kini hanyalah seperti hari kemarin.
(Calisha : meninggal dunia 26 September 2011 karena penyakit leukemia)

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter